Notification

×

Cerpen: Kerinduan Tak Berujung

Sabtu, 04 Februari 2023 | Februari 04, 2023 WIB

cerpen_sudarjo_abd_hamid
Foto: Istimewah

MATALINENEWS.COM--
Sosok yang luarbiasa hadir tercipta oleh Tuhan dari tulang rusuk lelaki ( Ayah ), dialah Ibunda tersayang figur yang tak bisa tertukar sepanjang waktu. Rasa cinta begitu kuat dipunyainya, rasa sayang begitu besar seluas langit serta bumi, rasa iba begitu deras tumpah ruah kepada setiap anak yang dilahirkannya, hingga ia rela mempertaruhkan nyawanya, demi keselamatan buah hati dambaan jiwa.


Dikala genap waktunya mengandung untuk melahirkan, oleh taksiran bidan dan Dokter SpOG, ribuan bahkan jutaan urat terputus ibarat duapuluh tulang raga patah, dan berliter liter darah mengalir kebumi, yang semuanya akan sembuh seketika dikala mendengar tangisan jantung hati sibiran tulang yang dekap pada dada sang Ibu.


Kasih sayangnya begitu lembut bak purnama di tengah al-manak, hati dan jiwanya menyatu pada tiap desah nafas, raga yang sedikit sigap sebagai payung pelindung dikala buah hatinya mengalami peristiwa yang memilukan, sosok yang tak pernah terganti oleh materi semahal apapun. Figur yang tabah dalam membahagiakan anaknya, hatinya akan teriris mendalam dikala mendengar berita kemalangan, dijiwanya akan gamang tak berarah, raganya akan luruh layu ketika kupingnya tersadap warta yang ironis dari sukmanya.


Drama kehidupan telah digeluti lama olehnya, bahkan serumit apapun kehidupan telah dilumat lahap dalam hayatnya, senarai ragam sosial telah dimangsanya sejak menjadi ibu hingga keriput wajah hadir menjemputnya. Pahit getirnya kehidupan telah di alami olehnya, sungguh kuat atmanya dalam membesarkan dan mendidik para penerus nasabnya, tak pernah mengeluh apalagi membandingkan segala pemberian yang telah diinfakkan tanpa menagih sepeserpun, karena ia tahu bahwa menjadi ibu adalah panggilan dan amal jariyahnya terus mengalir walaupun telah tiada.


Keikhlasan mengandung oleh kudrat Tuhan nampak terlihat dalam penjagaan, memikul beban kehidupan dengan pasrah selama sembilan bulan sepuluh hari dilakukan tanpa pamrih, berbaring cukup sulit apalagi berjalan jauh, mual mules diawal kehamilan cukup menguras fikiran, apalagi keanehan dalam memilih makanan di masa ngidam.


Tungkai gemetar dahsyat karena beban semakin meningkat, pinggul terasa nyeri kadang lemas menyapa, semua diikhlaskan dan dinikmati demi kehidupan selanjutnya. Genap waktu persis taksiran ibu begitu gelisah bercampur cita, raga berkecamuk peluh bercucuran, rasa sakit mengguyur seluruh raga di saat detik detik persalinan. Lidah sang ibu terus berdoa melengking suara hingga ke nabastala, netra bercucuran air bening tak terasa diatas dipan kayu tak berkasur. Rasa begitu paripurna oleh bahana suara sang pewaris, ikhlas mengoyak dan mencabik rasa serta hati menuju kehidupan baru.


Dengan kesabaran hati dan ketenangan jiwa begitu besar, merawat buah hati sejak nol hari hingga dewasa. Tak ada kado istimewa yang aku patrikan untukmu ibu, hanya sekelumit doa agar kebahagiaan selalu bersamamu. Di kala malam tiba tidur lelappun sangat jarang di kala tangisan aku oleh lapar dan basah popok, ibu bangun dengan ikhlas tanpa paksaan menggendong dengan lantunan padika syahdu di tengah kelelapan penghuni jagat. Mendidik ku menjadi pemuda tangguh tegar berani dan mandiri, bukan lelaki pengecut, pendendam dan pesimistis dalam kehidupan.


Ibu kini waktu semakin beranjak pergi, proses penuaan pada raga semakin nampak terlihat, mahkota yang dulu lebat lebat hitam berombak, kini mulai rontok berubah warna, wajah ibu yang dulu anindya kini terlihat ada garis garis halus tak bertauran menempel di pipi dagu pelipis, mata yang dulu jelas terlihat dengan riasaan tebal alis, kini semakin buram dan samar, gapaian tangan yang dulu cekat dan kuat kini lemah tak berotot, gigi putih yang tersusun rapi dahulu, kini satu persatu mulai pamit meninggalkan gusi, desah nafas kelelahan terdengar jelas, lenggang tubuh tak sesempurna dulu. Itu semua ibu ikhlas tak pernah mengeluh kepada ku.


Engaku rela terbangun diambang subuh meniti jagung dan menjerang air utuk sarapan buah hatimu, menyiapkan fasilitas sekolah hingga aku berpamitan menuju telaga ilmu. Ibu pun bergegas menuju ladang dengan ubi rebus dan ikan sembe,tanpa sendal menyusur jalan panjang tanpa menghiraukan onak serta belati, kepala tanpa topi pelindung ubun ubun tak mengurungkan niat walaupun terik mentari begitu panas membakar tubuh. Memacul dan menanam merawat hingga berbuah padi serta jagung di hamparan warisan nenek moyang dahulu kala. Terik mentari tak terasa, basah raga oleh gerimis mengguyur ibu tak pernah peduli, yang terpenting adalah hasil kebun bisa menafkahi keluarga di musim mendatang. Rasa lelah dan letih mu ibu tak pernah mematahkan semangat untuk memenuhi segala kebutuhan hidup dan urusan rumah tangga.


Ibu bagiku adalah obat penenang yang kaya akan penyembuhan, teringat kala maghrib menyapa ibu keliling kampung sambil bertanya pada teman sebaya tentang keberadaanku, begitu gelisah bila belum bertemu, sejauh apapun tapak disusuri jalan panjang unjtuk menemuiku, dengan sigap sedikit marah sambil memeluk dan menuntunku jalan pulang ke gubuk reot di tengah mukim. Dengan bauh keringat dan aroma peluh dan daki yang masih menempel diragaku, ibu tak pernah jijik merangkul memeluk dan menciumku. Sesampai di beranda rumah persedian air mandi serta makan malam telah di sediakan, semuanya terurusi oleh ibu tanpa tertinggal. Rasa kantuk mendera tak terasa hingga aku pulas di lantai tanah, ibu ikhlas membopongku tanpa mengeluh ke kamar tidur, tidak sampai disitu ibu masih menyempatkan tangan untuk mengelus ngelus hingga aku ngorok tanpa sadar. Ibu memperbaiki sibakan kain pada tubuhku, ibu takut badanku kedinginan dan tergigit nyamuk. Pelukan ibu begitu dalam aku bersandarkan kepala pada lengan yang hampir rapuh ditelan zaman.


Sekian tahun ibu membara mencari materi untuk keberlangsungan sekolahku, hingga aku mencapai kesuksesan menjadi seorang sarjana. Ibu hadir menyaksikan ceremonial wisuda ananda terlihat mata berkaca kaca tak tersa air mata pun jatuh menetes pada lesung pipit ibu. Ibu turut mendampingiku dikala Dekan memindahkan tali toga bersama ratusan angkatan tahun itu, begitu gembira bercampur haru atas jeripayah yang mumpuni oleh ibu. Dengan raut muka bahagia di hari wisudaku, ibu bisikan ditelingaku dengan kalimat panjang yang lirih “ Doa Ku kata Ibu, terkabul oleh Allah tepat waktu” 


Usai seluruh ceremonial wisuda anakmu, singkat cerita ibu mengajak ku untuk pulang kampung dan mengabdi di tempat kelahiranku. Disanalah anakmu memulai meniti karier sebagai Guru honorer/komite pada salah satu sekolah dasar kempung tetangga. Ibu begitu bangga atas dedikasi dan pengabdian yang tulus kepada Negara olehku, sehingga ibu begitu terharu ketika melihat anakmu pergi mengajar berjalan kaki. Inisiatif ibu untuk membahagiakan anak memiliki banyak cara, sehingga ibu rela menggadaikan sebidang tanah peninggalan mendiang ayahanda terkasih untuk membeli sepeda ontel dan sisanya untuk keperluan proses pendaftaran testing CPNSD di Ibukota Kabupaten ketika itu. Ibu begitu tulus doanya, ibu begitu besar pengorbanan mu, setetes air susu mampu menjadikan keberkahan hidup mengalir tanpa henti, ketulusan dan keridhoaan mampu membuka pintu langit untuk doa tembus ke arsy Allah, sehingga kehidupan putra dan putrimu begitu lapang dan di hargai orang.


Usai bergumul dengan ratusan soal soal hingga ke titik waktu, bergegaslah aku meninggalkan ruangan menuju terminal untuk lanjut perjalanan ke kampung halaman dengan menggunakan mobil truk kayu. Jarak tempuh lumayan jauh sekitar 65 Km dari ibukota, lelah dan letih memaksa ku harus lelap diatas mobil, walaupun jalan begitu rusak dengan serakan kerikil bawaan banjir saat seroja kali lalu, apalagi ditambah dengan hawa panas menyengat tubuh, terbangan debu menutup jarak pandang kadang letih mata oleh masuknya butiran debu didalamnya. Sesampainya dirumah terasa sepi, tidak ada bunyian perkakas dapur, atau suara batuk ibu dan lain sebagainya. Ternyata ibu belum pulang dari kebun. Akupun bergegas menuju tempat tersebut untuk dapatkan ibu disana, senyum manisnya nampak terlihat mendengar suara ku dibalik bukit, ibu dengan wajah gembira meninggalkan segala pekerjaan untuk menemuiku digubuk ilalang yang nyaris lapuk oleh rayap dan angin kencang.


Ibu duduk simpuh di samping ku, diatas dipan tanpa alas sesekali berkedip mata menatapku, sembari memperbaiki rambut uban yang tertiup angin, sambil menyampaikan sesuatu yang agak aneh bagiku mendengarnya.


Ibu, Nak sapa ibu dengan tenang sambil memegang kekar bahu ku..


Aku, ia ibu, ada apa gerangan ?


Ibu, semalam kita berdua naik pesawat dalam mimpi ibu, kita mendarat disebuah taman yang beraneka warna bunga, semua pada segar harum semerbak mewangi dan merekah. Betapa bahagianya ibu dalam mimpi semalam.


Aku, ahh itu cuman bunga tidur ibu, jangan dipikirkan panjang lebar.


Ibu,Nak. Mimpi kebaikan itu kadang menjadi nyata, menurut orang tua dahulu, setiap mimpi yang baik itu bertanda keberkahan dan kesuksesan. Semoga anakda lulus setelah menempuh ujian ini. 


Aku, amin makasih atas doanya ibu !


Seminggu kemudian pengumuman pun disampaikan lewat telegram, pada saat itu terkejutnya aku setalah magrib diberanda rumah, ditemanani obor kecil dengan radio national sambil memainkan gelombang dengan beberapa frekuensi, disanalah saya mendengar pengumuman dan panggilan peserta lulus tes CPNSD beberapa waktu lalu. Alhamdulillah sekian ratus orang namaku juga disebutkan dalam kategori lulus memenuhi formasi guru SD. Betapa bahagianya aku dan ibuku mendengar berita tersebut. Betapa mustajabnya doa ibu begitu dahsyatnya harapan ketika dilangitkan keharibaan Tuhan, tentunya Tuhan pasti mengijabah permintaan ibu dalam lantunan doa doa sujud. Sekian perjalanan telah di tempuh, kesuksesan pun kembali menyapa lewat kelulusan sebagai abdi Bangsa. Pesan ibu pada ku disaat itu adalah, menjadi budak negara adalah sebuah kehormatan, jagalah amanah itu, jujur dan terus amanah bila diberi keperccayaan, jamgan ambisi dan iri nhati, nikmati pemberiaNya dan banyaklah bersyukur. Selesai ini setelah bekerja dua atau tiga tahun, segerahlah menikah wahai anak ku. Beberapa tahun kemudian akupun menikah dengan gadis pilihanku, atas restu ibunda aku dikaruniai seorang putra sebagai pewaris nasab keluarga. Betapa senangnya hati ibunda dikala mendengar lahir seorang putra, karena baginya lamaholot berkiblat pada sistim patrilineal, sehingga seorang lelaki yang dilahirkan adalah sebuah kebanggan secara suku serta adat.


Waktu tak henti berjalan seiring usia ibu semakin renta, sakit sakitan nyaris tak terlewatkan setiap waktu, sehingga suatu saat ibu harus rawat inap beberapa minggu dirumah sakit, karena diagnosa dokter bahwa ibu mengalami radang paru paru, itupun diupayakan kesembuhannya lewat obat dan terapi setiap waktu. Ibu kembali sehat dan bisa beraktifitas lagi, namun ibu tidak sekuat dulu, sembuh ibu terhitung sedikit karena akhir akhir ini sering keluar masuk rumah sakit.


Setelah pergantian jam disekolah, batinku tidak karu karuan. Sepertinya ada beban yang menggumpal hadir seketika, sedikit gundah dan terasa detak jantung begtu keras menghantam dada, sepertinya ada sesuatu menurut pikiranku. Sepulang sekolah aku bergegas menemui ibu, ibu tidak seperti biasanya, dengan wajah yang lemah dan suara tidak jelas terucap, ku rangkul badan ibu sambil mijit dengan iringan shalawat dan dzikir ditelinganya. Tepat waktu ashar ibu dipanggil keharibahan Tuhan,menghembuskan nafas terakhirnya dipangkuanku, meninggalkan kami semua menuju alam barzah. Aku begitu kehilangan sosok ibu yang lembut hati dan kaya bathin. Bila rindu terus mendera tak berujung, aku sempatkan kepusarah ibu, yasinan dan berdoa. Hanya gambar usang yang hanya bisa aku tatap wajahmu ibu, yang bisa mengobati panjangnya rinduku padamu ibu, dalam setiap sujudku terus ku lantunkan doa Rabbgigfirli waliwali dayya, warhamhuma kama rabbayani shaghira. Semoga ibu ditempatkan bersama orang orang sholeha. Merindumu tak pernah pupus dalam ingatan, dan berdoa untukmu adalah sebuah keharusan. Semoga Allah lapangkan kubur dan meringkan hisab nanti. Amin ... 


Penulis:  Sudarjo Abd Hamid, Guru SD,Penuis, Jurnalis MatalineNews,Penulis Buku Puisi Goresan Syair Dari Negeri Ikan Paus.