Notification

×

Local Wisdom : Perekat Keberagaman Masyarakat Kedang

Jumat, 02 September 2022 | September 02, 2022 WIB

rusli_hereng
Foto. Penulis Rusli Hereng  
MATALINE NEWS.COM- Bangsa indonesia dimata dunia hadir dengan berbagai macam sumberdaya alam, beragam kebudayaan yang tidak luput seiring perkembangan dan kemajuan era teknologi. Beragam suku, budaya, adat istiadat yang membentang dari sabang sampai merauke, dari miangas sampai pulau rote, menjadi entitas dan pijakan untuk berbangsa dan bernegara. 


Era digital 4.0 adalah tantangan bagi masyarakat Indonesia dengan pola kehidupan yang serba instan dan tentunya bergeser jauh melampui kebiasaan. Begitu pula digitalisasi menjadi peluang untuk mengukur tanggungjawab dalam merespon perubahan yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap generasi hari ini sebagai pewaris untuk tetap merawat dan menjaga keberagaman itu agar tetap utuh di tengah prahara kehidupan sosial. Jika kembali menilik pada konsep keberagaman bangsa, maka ada kekuatan besar yang terbingkai dan menjadi semboyan untuk menjaga kerukunan.


Sederhananya bahwa, kerukunan itu tercipta dengan sikap terbuka akan hadirnya keberagaman. Tidak hanya dalam skoop wilayah Indonesia, melainkan daerah-daerah lain dengan bentangan keberagaman yang menjadi identitas paling menonjol dan menjadi pusat studi nilai-nilai sosial. Kekayaan dan identitas tersebut teridentifikasi dari Negeri ujung timur Indonesia. Wajah keberagaman yang utuh dan terjaga itu hadir di Nusa Tenggara Timur sebagai bentuk pembuktian atas makna filosofis semboyan bangsa Indonesia “Bhineka Tunggal Ika”. Pasalnya, Nusa Tenggara Timur menjadi contoh daerah yang patut diteladani lantaran kesadaran masyarakatnya mengenai keberagaman yang memicu gelombang kerukunan yang sehat antar sesama. Kekuatan itu sebagai tameng untuk menepis isu-isu intoleransi yang marak dan pernah menghantam kerukunan, solidaritas dan hubungan sosial kemasyarakatan.


Local Wisdom


Kerukunan, solidaritas dan nilai-nilai sosial dalam konteks kehidupan yang secara autentiknya adalah sikap kesadaran masing-masing individu yang berani melampui batas-batas primordial, mengambil prakarsa secara cepat, dan tidak mengedapankan prasangka dalam menjalin kehidupan sosial di masyarakat. Sumber keberagaman atau kemajukan dalam sosial kemasyarakatan sudah menjadi sesuatu yang permanen dan merupakan pemberian dari Tuhan. Oleh karenanya maka setiap individu harus menyikapi keberagaman itu diatas pijakan kearifan lokal. Kearifan lokal dalam disiplin ilmu antropologi (Ayatrohaedi;Kepribadian Budaya Bangsa) yang pertama kali diperkenalkan oleh Quaritch Wales bahwa kearifan local adalah “The sum of cultural charaterictic wich the fast majority of a people have in common as a result of their experiences in early life”.



Local wisdom harus dimaknai sebagai wawasan dan demonstrasi yang sifatnya murni dari adat atau keyakinan daerah berdasarkan pengalaman hidup di ruang-ruang sosial yang masih mempertahankan kebudayaan sebagai hasil karya, cipta dan karsa bagi mereka. Keberagaman yang ideal dapat membentuk kerukunan dan keharmonisan antar individu. Oleh karenanya maka pemaknaan yang tak kalah pentingnya mengenai local wisdom menjadi kekuatan fundamental setiap daerah untuk menjaga tradisi kultural yang diwariskan semenjak turun-temurun. Artinya bahwa, jika menyelami lebih dalam mengenai local wisdom maka tentunya dapat mencerna kekhasan kebudayaan yang mampu merawat kehidupan yang harmonis.


Keberagaman Masyarakat Kedang


Nilai-Nilai Sosial kemasyarakatan tersebut juga lahir dan telah melekat dalam rutinitas dan budaya masyarakat Kedang, Lembata Nusa Tenggara Timur. Kampung kecil di bawah payung lagit dengan hamparan bukit Gunung Uyelewun memiliki ciri khas yang jauh berbeda dengan daerah-daerah di kabupaten lembata. 


Kekhasan itu terus bertumbuh subur dalam dinamika kehidupan sosial masyakat Kedang. Artinya bahwa masyarakat kedang dengan begitu banyak deretan budaya yang unik, adat istiadat merupakan the big of power dan juga sebagai alat pemersatu kerukunan. Mengapa demikian? Sebab masyarakat kedang berasal dari satu rumpun keluarga dengan latar belakang sejarah dan kekayaan budaya yang diwariskan oleh para nenek-moyang kurang lebih empat ratusan tahun yang lalu. Diselah-selah aktivitas masyarakat Kedang, Lembata Nusa Tenggara Timur, terkandung nilai-nilai luhur yang dijadikan pedoman untuk menjaga keharmonisan. 


Keharmonisan yang terbentuk, menjadi kekuatan perekat keberagaman masyarakat Kedang. Artinya bahwa sejauh ini, tidak pernah terjadi konflik terbuka antar sesama. Kalaupun ada konflik sekalipun dapat diselesaikan dengan pendekatan kekeluargaan. Ini menjadi representasi bahwa kekuatan masyarakat Kedang terletak pada berbagai macam kearifan local yang mengikat satu sama lain. Disisi yang lain, kearifan lokal sebagai sumber untuk mengidentifikasi jejak-jejak historis kemanusian masyarakat kedang yang pada hakikatnya berkaitan dan berkesinambungan. 


Dalam konteks studi nilai-nilai sosial, kita menjumpai ada konsepsi masyarakat kedang dalam membina kerunanan dimana terdapat nilai-nilai yang menjadi aturan dan nasehat (inga’ nute sain tau’ toye’ bayan), nilai-nilai kekerabatan (ine ame binen maing), nilai-nilai gotong royong (pohing ling holowali) dan nilai-nilai kasih sayang (ebeng we’bora’ we’- roho oba’ soba’ sayang’). Artinya segala bentuk aktivitas sosial masyarakat Kedang pada dasarnya berpijak pada nilai-nilai konsepsi tersebut. Selanjutnya bahwa mengenai faktor-faktor kehidupan sosial masyarakat Kedang yang dirunut dari sejarah uyolewun dan sumpah adat (sain bayan) yang kemudian menjadi kontruksi dan penentu kebiasaan Masyarakat Kedang. Sehingga perlu ada upaya merawat dan melestarikan nilai-nilai kearifan lokal yang tertanam dalam tubuh sejarah antropologi masyarakat Kedang agar menjadi sumber pijakan dan pedoman generasi yang akan datang.


Penulis: Rusli Hereng