Notification

×

Selamat Datang Abad 2 (NU NTT Bangkit Semangat Bejuang, Jangan Takut Berkorban untuk NU Insyaallah NU Digdaya)

Selasa, 07 Februari 2023 | Februari 07, 2023 WIB

ketua_pw_nu_ntt
Drs. KH. Pua Monto Umbu Nay (Ketua PWNU NTT)

MATALINENEWS.COM-- Tidak semua organisasi keagamaan atau lembaga Islam yang lahir, lalu "tumbuh sehat" dan kemudian terus berkembang hingga mencapai Satu Abad dalam kiprah mendedikasikan khidmahnya kepada umat, bangsa, negara dan secara khusus atas keberlangsungan Islam ahlussunah waljamaah di Indonesia.

Dalam kiprahnya ormas tertua di Indonesia yang terus istikamah merawat jagad, membangun peradaban dan menjaga Islam ahlussunah waljamaah selain Nahdlatul Ulama (NU), ada Muhammadiyah, Al Irsyad Al Islamiyyah, Mathla'ul Anwar, dan Persatuan Islam.


Pendiri sekaligus ulama yang terlibat atas lahirnya Nahdlatul Ulama antara lain:



KH. Hasyim Asy'ari (Jombang)

KH. Wahab Hasbullah (Jombang)

KH. Bisri Syansuri (Jombang)

KH. Raden Asnawi (Kudus)

KH. Nawawi (Sidogiri Pasuruan)

KH. Ridwan Mujahid (Semarang)

KH. Maksum Ahmad (Rembang)

KH. Nahrawi Thahir (Malang)

KH. Ndoro Muntaha (Bangkalan)

KH. Abdul Hamid Faqih (Gresik)

KH. Abdul Halim (Cirebon)

KH. Ridwan Abdullah (Surabaya)

KH. Mas Alwi bin Abdul Azis (Surabaya)

KH. Abdullah Ubaid (Surabaya)

Syekh Ahmad Ghanaim al-Misri (Surabaya)

KH. Dahlan Ahyad (Surabaya)

KH. Khalil Masyhuri (Rembang).


Tepat hari Selasa, 16 Rajab 1444 H/7 Februari 2023 NU telah sampai Satu Abad dalam usianya. Peringatan Satu Abad NU diselenggarakan digelar di Gelora Delta Sidoarjo, kira-kira 54 menit dari Kota Surabaya tempat NU di lahirkan pada pada 1926 M/1344 H, atau tidak kurang dari 120 menit dari Bangkalan Madura tempat Syaichona Cholil Bangkalan Madura memberikan isyarat atau restu atas berdirinya Nahdlatul Ulama dalam rentang waktu 1924-1925.


Kenapa Harus Bersyukur?


Setidaknya ada tiga alasan penting kenapa kita sebagai warga NU harus senang dan istikamah menjadi bagian dari warga NU.


Pertama, organisasi Nahdlatul Ulama didirikan dan dijaga oleh para ulama yang tidak saja alim, tetapi juga abid dan 'arif billah. Tidak sekedar dikaruniai ilmu pengetahuan yang mendalam tapi juga keteguhan batin dan keluasan makrifat kepada Allah. Dalam perjalanannya, banyak cerita dan pengalaman NU yang bersifat asrar al-ilahiyah yang biasa tidak lazim dapat ditangkap melalui kebanyakan manusia.


Ketersambungan secara ruhaniyah warga NU dengan para pendiri NU diyakini--sebagaimana ahlussunah meyakininya--adalah ketersambungan yang terus berlangsung dari hidup sampai mati.


Terkait tetersambungan secara ruhaniyah antara pendiri dan warga NU, Sayyid Abdullah bin Alwi Al-Haddad mengatakan, "bahwa perhatian seorang wali setelah ia wafat terhadap kerabat dan orang-orang yang 'bersandar' kepadanya lebih besar disbandingkan perhatiannya terhadap mereka seketika ia hidup". Kita meyakininya, yang menjaga NU bukan saja warga dan pengurus NU yang masih hidup, tetapi mereka para pendiri menjaga dan memantau perjalanan NU.


Dalam cerita yang masyhur di kalangan nahdliyin, KH. Hasyim Asy'ari mengakui jadi santrinya dan mendoakan husnul khotimah bagi yang mengabdi pada bangsa dan agama lewat NU. Bahkan, didoakan beserta anak cucunya.


Kedua, Nahdlatul Ulama termasuk kelompok Ahlussunah waljamaah yang merupakan kelompok an-Najiyah (kelompok yang selamat).


Pola keberagaman Nahdlatul Ulama mendasari pada Al-Qur'an dan As-sunnah sebagai sumber primer dan juga kepada sumber-sumber sekunder yang mengacu pada Al-Qur'an dan As-sunnah seperti ijma' dan qiyas. Nahdlatul Ulama mengikuti salah satu dari mazhab empat, yaitu mazhab Imam Abu Hanifah, mazhab Imam Malik ibn Anas, mazhab Imam Muhammad bin Idris as-Syafii dan mazhab Imam Ahmad bin Hanbal.


Di bidang akidah mengikuti mazhab Imam Abul Hasan al-Asy'ari dan mazhab Imam Abu Manshur al-Maturidi. Sedangkan untuk di bidang akhlaq/tasawuf mengikuti mazhab Imam al-Junaid al-Baghdadi dan mazhab Imam Abu Hamid al-Ghazali.


Ketiga, warga Nahdlatul Ulama atau kaum muslim nahdliyyin, dengan merujuk pada keputusan dan ketentuan NU, bagi warga Nahdiyin wajib mentaati pemerintah Indonesia. Cara bernegara seperti ini menunjukkan bahwa warga NU sebagai elemen terbesar bagi bangsa Indonesia, tentu saja mengakui eksistensi negara, tetap turut juga andil menjaga kedaulatan negara untuk selamanya.


Dengan berpandangan seperti ini, maka bagi warga NU bisa meluruskan siapa saja, khususnya sesama nahdliyin, termasuk kelompok yang tidak mengakui eksistensi NKRI, tidak mentaati pemerintah, tidak mengakui dasar/falsafah negara atau berupaya menggantinya dengan sistem lainnya.


Walhasil, dalam rangka melihat eksistensi Nahdlatul Ulama (NU) hingga usianya mencapai satu abad ini, kita harus menunjukkan rasa syukur kepada Allah SWT karena kita telah dituntun oleh ulama para kekasih Allah untuk bernaung di organisasi NU, bisa beragama dengan benar dan bernegara di Indonesia dengan benar.


Kembali kepada peringatan Satu Abad NU, hari Selasa 16 Rajab 1444 H/7 Februari 2023 adalah hari bersejarah, semua aktivitas dalam rangka Harlah NU adalah momentum bersejarah, langkah warga Nahdlatul Ulama menuju lokasi acara resepsi Puncak Satu Abad NU adalah langkah-langkah bersejarah. Bahkan sejak kita berangkat dari rumah masing-masing sudah penuh nilai sejarah. Selamat datang di acara resepsi Puncak Satu Abad NU.


Penulis: Drs. KH. Pua Monto Umbu Nay (Ketua PWNU NTT)